Dia

“Kalau kata-kata saya tajam, kamu tampar aja yaa.” suaranya terdengar dari balik layar kecil yang kugenggam.

Bagaimana caraku menamparmu? kamu jauh, gerutuku dalam hati.

“Kakak kalau marah langsung malas ngomong, gak bisa ditampar.” celetukku.

“Iya, saya memang tidak ingin dihubungi jika sedang marah.”

“Iya, tapi bukan itu maksudku.” kataku menjelaskan, “Misal nih kita lagi ngobrol, diskusi atau apa lah … terus tiba-tiba kakak tersinggung dengan perkataanku lalu jadi marah dan kesel gitu, pasti selalu ingin segera menutup percakapan dengan berbagai alasan.”
Kamu mengikuti amarahmu, lanjutku dalam hati.

“……”

Hening.

“Kakak…”

“Ara…”

Sesekali cuplikan satu dari banyak dialog terputar begitu saja dalam benakku, menarikku ke masa itu yang rasanya baru semalam terjadi. Tak terasa lima bulan berlalu terhitung sejak hari ia datang. Dia datang lebih cepat dari yang kusangka, aku tak mengira akan begini. Dia bukan kakak.

#Day2
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.