Buka mata

Jumat, 15 Maret lalu terjadi penembakan secara brutal di sebuah masjid dan menewaskan kaum muslimin yang hendak melaksanakan solat jumat. Pelakunya jelas bukan seorang Muslim. Kita semua sepakat, apa yang dilakukan oleh pelaku adalah aksi teror. Telah banyak juga yang mengecam aksi itu.

Namun anehnya, Muslim di Indonesia ada yang merasa bahwa ada yang tak berpihak karena pelakunya bukan Muslim. Maksudnya begini, ada sebagian orang yang merasa bahwa julukan teroris hanya disematkan pada pelaku jika ia muslim. Jika bukan muslim ia tak dianggap teroris, banyak yang menutup mata, begitu anggapannya.

Sekarang ini, aku merasa muslim di Indonesia telah terbagi menjadi dua tipe–berdasarkan perasaannya: muslim yang merasa terzalimi dan yang merasa biasa saja.

Yang menjadi pertanyaan, apakah benar ada yang mendiskreditkan islam? Kalau memang iya benar begitu, lalu kenapa ada sebagian muslim lainnya yang merasa biasa saja? Apakah yang satu kelewat baper atau yang satunya emang gak peka? Terlepas dari itu semua, tak bisakah kita fokus pada solusi? Yakni, menciptakan keadilan dan perdamaian?

Advertisements

Review Buku : Enlightening Parenting (Okina Fitriani)

review buku enlightening parenting.jpgBuku ini kupinjam dengan alasan penasaran. Setelah aku terkesima dengan pemaparan Cikgu Okinaf selama seminar yang menancap hingga relung hati eaaa aku pun tergoda ingin membeli semua bukunya. Sayangnya, bujetku tidak mencukupi, alhasil yaa minjem aja dulu hehe..

Buku ini cukup banyak mengupas hal-hal penting dalam pengasuhan, membuatku berkaca dengan apa yang kualami di masa lalu dan pengasuhan-pengasuhan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarku. Khususnya bagi angkatan mamaku, tanteku, pamanku, banyak dari mereka yang memang tidak menyadari pola pengasuhan mereka mengikuti orang-orang sebelum mereka juga. Parahnya, mereka tidak menyadari telah melakukan kesalahan.

Penjelasan dalam buku ini begitu mudah dipahami dan memberikan insight pengasuhan yang mencerahkan.

ANAKKU TAMU ISTIMEWA DARI TUHANKU

Semua pasangan yang telah menikah tentu sepakat dengan kalimat di atas. Anak seringkali dianggap penting dan menjadi prioritas. Tapi, apakah orang tua telah benar-benar memperlakukan anak seperti orang penting bak tamu istimewa dan menjadikan mereka prioritas??

Jika kita mendapat tugas memimpin sebuah perusahaan, sebuah organisasi, atau sebuah proyek penting, apa yang akan kita lakukan? Bukankah kita akan menyusun visi dan misi yang tertulis dengan jelas? Menentukan target-target pencapaian, mengevaluasi hasilnya dalam rapat kerja terjadwal? Membuat catatan evaluasi atas hal-hal yang perlu diperbaiki? Berdebar-debar menunggu hasil evaluasi kinerja dari pihak-pihak yang terlibat? Mempersiapkan strategi komunikasi terbaik dan hal-hal penting lainnya? Semua dilakukan sedetail mungkin, sebaik mungkin. Bahkan jika merasa kurang mampu, kita akan mempersiapkan serangkaian pelatihan demi mencapai hasil maksimal.

Lalu apa yang dilakukan orang tua saat diamanahi untuk menjadi pemimpin bagi anak-anak mereka?

Apakah mereka memiliki visi dan misi dan mensosialisasikannya ke anak-anak mereka? Adakah catatan pencapaian dan evaluasi untuk perbaikan? Adakah jadwal kumpul bersama agar orang tua mendapatkan umpan balik dari pengasuhan mereka dan membahas isu-isu yang dianggap penting oleh anggota keluarga?

Jika orang tua yang bekerja berdebar-debar menunggu hasil evaluasi kerja, Apakah mereka secara berkala menanyakan harapan dan penilaian anak terhadap dirinya?
Begitu banyak harapan orang tua kepada anak. Berharap anak tumbuh cerdas, sehat, hebat, saleh dan salihah, Namun mereka lupa bertanya, apa harapan anak-anak terhadap mereka.

Menohok banget kan.

Bisa kukatakan, isi buku ini “daging” banget. Sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh orang tua, dan calon orang tua.

Menanggapi Perkataan Tengku Zulkarnain

Tulisan status mbak Kalis yang menanggapi sebuah dialog membuatku ingin menuliskan tanggapanku juga.

https://web.facebook.com/story.php?story_fbid=10213126389426704&id=1603398754&_rdc=1&_rdr

  • “Istrinya diem aja, tidur aja, gak sakit kok.”

Hm.. hm.. ((gak sakit)), katanya. Hmm bhaique. Memang aku tidak punya kapasitas menanggapi hal ini, berhubung aku masih single dan belum pernah berhubungan badan, yhaa mana kutahu yaa sakit apa enggak wkwkwkk. Tapi, tapi, tapi.. sebagai seorang perempuan aku punya bayangan sendiri tentang hal ini.

Ehm … begini, lubang vagina itu kecil. Menurut literatur kisaran 3 – 4 cm, pokoknya lebih kecil dari diameter penis yang umumnya 5 cm koma sekian. Bayangin aja, vagina dipenetrasi oleh benda yang ukurannya lebih besar dari lubangnya?

Masa’ iya gak sakit?

Tapi katanya, begituan enak. Katanyaaa..

Penetrasi bisa tidak menyakitkan, malah menjadi kenikmatan tersendiri itu ada penjelasan ilmiahnya.

  • “Masa’ sex itu harus mood?”

Oh jelas, harus. Dengan adanya mood dapat memicu hormon-hormon cinta sehingga libido meningkat. Peningkatan libido bagi perempuan menyebabkan vagina mengeluarkan cairan lubrikan. Cairan itu berfungsi sebagai pelumas saat penetrasi. Makanya, perempuan gak merasa sakit karena vagina telah terlubrikasi dan pria merasa enak banget karena licin, gak keset.

Lagipula,

Mengutip tulisan Dr. Adil Shadiq, ilmuwan mesir dalam bukunya yang berjudul Rau’at az-Zawaj:

Seks bukan hanya berfungsi biologis, atau untuk perolehan keturunan, tetapi ia lebih dalam, lebih luas, dan lebih sempurna. Daripada itu, ia adalah perwujudan konkret dari hubungan suci dua insan, dan perayaan tentang hubungan itu, dengan menggunakan jasad sebagai langkah awal menuju titik tujuan yang lebih luhur, yakni menuju penyatuan akal, jiwa dan rasa.”

  • “Daripada dia berzina.”

Sebenarnya solusi jika istri tidak mood telah diungkapkan oleh si ibu dalam video: mencari kesepakatan antara suami istri.

Kalau suami sambil merayu dan menstimulus titik-titik tertentu kayaknya hasil kesepakatannya bisa dieksekusi malam itu juga deh wkwkwk. Lagipula suami yang beneran sayang istri pastinya gak bakalan kepikiran ingin melakukan seks dengan perempuan lain dong yaaa.

  • “Tidak ada dalam Islam sama-sama mood. Dalam agama gak ada syarat hubungan suami istri harus sama-sama mood.”

Tidak ada syarat tertulis harus sama-sama mood, karena zaman rasul tidak menggunakan istilah mood, tapi mengasihi.
Suami dan istri harus saling mengasihi, karena seks bukan hanya berfungsi biologis, tapi lebih dari itu.

Review KumCer : Sarapan Pagi Penuh Dusta (Puthut EA)

Ini adalah buku pertama yang kutamatkan diawal tahun 2019. Aku menyelesaikannya disaat perjalanan kereta api dari Yogyakarta menuju Bandung. Buku ini tipis, hanya berjumlah 140 halaman, dan bisa ditamatkan dalam sekali baca. Berisikan 15 cerpen yang dikemas apik, tapi entah kenapa aku tidak bisa menikmati keseluruhan cerita. Dari semua kisah, hanya beberapa yang bisa kupahami dan menyadari pesan yang disampaikan penulis. Singkat kata, buku ini terasa tidak berkesan. Tidak meninggalkan perasaan istimewa selepas menamatkannya. Walau begitu, buku ini tetap layak dibaca sebagai camilan sore atau pengisi kekosongan hati~ karena bagaimanapun, buku ini mungkin saja terasa biasa saja bagiku, tapi tidak bagi orang lain.

Tentang harga buku ini, aku tidak tahu berapa, sekitar lima puluh ribuan–barangkali. Buku ini kudapatkan secara cuma-cuma dari seorang teman. Buku ini pun telah tersebar di toko buku dan dijual secara daring sehingga mudah didapatkan. Bisa juga dipesan saja di sini eh iklan wkwkwk..

Menanggapi IG story Ria Ricis

Aku tergelitik untuk menanggapi sebuah komentar yang dituliskan oleh seorang netizen, sebuah komentar yang lantas disukai oleh pemilik akun youtube tsb.

“Cocok untuk tontonan anak-anak kecil yang lagi demen banget nonton youtube.”

Seketika aku mengernyitkan kening, dan bertanya-tanya: “kok bisa ada anak kecil demen banget nonton youtube?, Awal mula si anak kecil jadi bisa nonton youtube itu karena apa dan siapa?”

Soalnya gini, anak-anak kecil (mari ita anggap adalah yang berusia 9 tahun ke bawah) Apakah sudah memiliki smartphone? Rasanya belum, kecuali orang tua si anak memang tergolong kaya dan suka menghamburkan uang membeli barang elektronik untuk anak yang masih berusia dini. Lalu, jika si anak belum memiliki smartphone, darimana ia bisa mengakses youtube? Jawaban paling logis adalah dari smartphone orang tuanya. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah si anak ujug-ujug meminjam smartphone orang tuanya atau orang tuanyalah yang memperkenalkan smartphone untuk pertama kali?

Ada 2 kemungkinan: si anak bisa saja ujug-ujug meminjam smartphone orang tuanya karena si orang tuanya selalu menggenggamnya alias seringkali sibuk dengan gawainya sehingga tanpa diperkenalkan pun, si anak telah bisa mengenali sebuah benda unik yang bisa menampilkan visual yang menarik. Atau kemungkinan lain, orang tuanya lah yang dengan sengaja menyodorkan smartphone dengan dalih yang ia anggap baik.

Sungguh, aku tidak menyukai fakta bahwa di luar sana, ada anak-anak yang demen banget nonton youtube. Disamping hal itu memang tidak mengasah kemampuan motorik si anak, kesengajaan orang tua maupun orang dewasa yang membiarkan anak-anak kecil mengakses youtube hingga sampai pada taraf “demen banget” itu telah dimanfaatkan oleh para youtuber tak bertanggung jawab. Dengan dalih memberikan konten yang ringan, para youtuber tsb sebenarnya menginginkan banyak suscribers dan peningkatan engagement. Mereka tentu saja ingin mendulang profit, tapi apakah mereka memikirkan bahwa anak kecil belum saatnya disuguhi smartphone apalagi konten youtube seperti itu? Untuk memastikannya, cek saja anaknya, ponakannya atau siapapun yang masih tergolong anak kecil di keluarganya, apakah para youtuber tsb menyuguhkan konten youtube mereka sendiri ke ponakannya? Ke anak kecil di keluarga mereka?

Jika sang youtuber saja enggan memberikan tontonan konten youtube mereka sendiri kepada anak kecil di keluarga mereka, lantas kenapa kita sudi membiarkan anak, adik, dan ponakan menontonnya?

Menjadi Manusia

Menghayati kembali makna manusia–menjadi manusia–dimulai dari tujuan penciptaannya. Dari apa yang kuyakini tujuan diciptakannya manusia adalah: beribadah kepada-Ku. Ku yang dimaksud bermakna zat yang Maha Esa. Lantas apa yang dimaksud dengan beribadah? Nah bagian ini nih luas banget, penjabarannya tidak bisa dipersempit hanya seputar aktivitas ibadah yang sifatnya rahasia antara hamba dan Tuhannya (internal). Secara garis besar, aku membaginya menjadi 2: ibadah internal dan eksternal.

Ibadah internal ya itu tadi, sifatnya rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Contohnya: berdoa, berzikir, salat, puasa, dll ya… yang harusnya intim gitu. Tanpa perlu ada yang tahu apalagi melibatkan orang ketiga, keempat dst.

Ibadah eksternal kebalikannya, karena memang harus bersinggungan dengan di luar diri. Terjun ke masyarakat, mengabdikan diri melayani itu ibadah. Bahasa sederhananya, bersosialiasi itu ibadah, karena melahirkan silaturahmi. Makanya pernikahan bernilai ibadah, salah satu faktornya: akan ada banyak individu yang saling berkenalan dan bersilaturahmi. Memungkinkan sepupu suami mengenali sepupu sang istri, keponakannya, ipar tantenya istri dsb. Masing-masing keluarga pasangan saling mengenal silsilah keluarga pasangannya juga. Jadi, bukan si mempelai saja yang mengenal keluarga pasangannya. Intinya, pasangan yang menikah akan menjadi jalan bagi keluarga masing-masing untuk memperluas silaturahmi mereka~

Contoh lain ibadah eksternal tapi tidak melibatkan sesama manusia adalah dengan lingkungan, yaitu sebagai penghuni bumi. Jika dihayati, sebenarnya seluruh aktivitas sebagai penghuni bumi bisa bernilai ibadah. Jika dalam pernikahan, kalau pasangannya mengasari pasangannya tentu bukan bernilai ibadah melainkan kejahatan. Begitupun manusia, kalau ia bertindak semena-mena terhadap bumi, ia sedang melakukan kejahatan bukan ibadah. Terkesan sepele sih, tapi seringkali terabaikan. Semena-mena tidak hanya berarti mengekploitasi bak para kaum yang gemar memutar uang. Buang sampah sembarangan, atau mencabut bunga yang indah itu jahat. Kamu Mereka tega banget jika melakukannya~

Pembahasan ibadah eksternal ini secara umum aku bagi lagi menjadi 2: terhadap manusia & lingkungan. Terhadap manusia, terbagi lagi sesuai perannya. Makanya, semakin banyak ber-peran semakin banyak pula aktivitasnya yang bernilai ibadah. Terhadap lingkungan itu mencakup lingkungan dan makhluk hidup lain yang bukan manusia. Ehm.. jin bisa termasuk kategori ini sih wkwk.

Tetiba aku merasa kayak lagi berdakwah karena menyinggung ibadah berulang kali haha. Emangnya tujuan ibadah apa sih? Nah loh hehe..

Selamat Hari Guru

Pertama, ucapkan selamat kepada diri, karena kita adalah guru bagi diri kita sendiri. Sebelum orang lain menempa diri kita, kita sendirilah yang selalu memulainya. Karena kita punya keinginan; kemauan; tekad. Balita tak kan pernah sanggup berjalan mandiri kalau ia sendiri tak bertekad untuk berjalan semaunya. Sejak dini, kita telah menjadi guru– setidaknya bagi diri sendiri.

Kedua, para pengajar; sesiapa saja yang pernah mengajari kebaikan. Pengajar tidak melulu guru formal. Tidak harus seseorang yang mengajar di sekolah ataupun kampus. Guru les–yang jabatan tidak se-prestis guru sekolah–juga termasuk guru yang layak diapresiasi. Guru ngaji, pun guru yang sering kali luput diberikan apresiasi. Sempit sekali jika guru hanya diidentikkan dengan seseorang yang berseragam atau memiliki jabatan tertentu.

Terakhir, semua orang. Keluarga, teman, tetangga, bahkan pacar atau mantan pacar adalah guru. Adanya mereka mengajarkan sesuatu.

Semua orang guru, semua orang murid.