Komunikasi Intens

Dulu aku sempat heran, kok bisa yaa dua orang berbeda gender betah telponan lama-lama padahal yang diomongin hal-hal biasa, itu lagi dan itu saja. Aku yang kala itu masih anak ingusan bocah SMP, merasa iyuh banget melihat beberapa kakak seperpupuan yang terlihat menikmati setiap momen bercakap-cakap ria dengan seseorang dipenghujung telpon. Hal semacam itu tuh gak kupahami, kok bisa sih? Why gitu lho? Kayak kurang kerjaan.
Sekarang aku sedikit bisa mengerti mengapa para muda-mudi itu senang berkomunikasi atau malah intens tanpa jeda. Tiap hari –biasanya malam– telponaaaaaaan mulu, padahal sudah saling mengirimi pesan teks sama intensnya. Minimal setiap hari ada sebaris kalimat dikirim-terima.

Aku tidak bisa menjelaskan alasan logis the strong why kita senang menghubungi seseorang yang disenangi. Aku juga tidak mengerti mekanisme cara otak manusia bekerja kenapa bisa senang begitu atau apakah hal semacam ini sebab terstimulusnya zat endorfin dalam tubuh, entahlah, aku pun kurang mengerti. Tapi kini aku mengerti rasanya komunikasi yang kadang –mungkin– tanpa jeda itu candu sehingga segelintir orang terkesan posesif.

Beberapa pelaku posesif ada yang enggak merasa nggak memberi jeda sama sekali, dia gak sadar kalau dia memang seposesif itu. Ada juga yang sadar tapi tetap aja stay posesif, ini karena yang orang yang diposesifin doesn’t mind dengan posesifnya dia.

Kembali ke pembahasan awal, sebenarnya penting gak sih berkomunikasi intens itu? jawaban pertanyaan ini relatif sih yaa, bagi sebagian orang butuh tapi bagi sebagian lagi ngapain sih ngehubungin sering-sering, gak nyaman aku tuh hubungan intens begitu entah via chat atau telpon.

Ini tergantung juga dengan siapa sih kita berkomunikasi. Kalau misalnya dengan teman dekat tempat curhat di mana semua obrolan penting gak penting diomongin, Tentu sudah memahami dan menerima perbedaan masing-masing, termasuk gaya dan karakter teman kita. Karena sudah nyaman, menemukan teman sejiwa seperasaan, sefrekuensi dan se se lainnya kita pun menyesuaikan diri. Mau jarang ngobrol atau saking seringnya ya tetap fine-fine aja. Konflik mungkin terjadi, tapi yaa itu tadi, sudah memahami dan menerima gaya dan karakter pribadi masing-masing.
Lain halnya dengan orang tua, berkomunikasi intens itu perlu apalagi jika jauh dari rumah sedang melalang buana ke kota orang. Salah satu indikator keluarga memiliki hubungan yang sehat ya bagaimana kualitas komunikasi yang terbentuk.

Nah lalu bagaimana jika berkomunikasi dengan lawan jenis dalam konteks adanya kecenderungan rasa. Hmm… Balik lagi ke jawaban di atas, ini relatif, bagi sebagian orang butuh atau ingin tapi bagi sebagian lagi ngapain sih ngechat sering-sering, gak nyaman aku tuh hubungan intens begitu entah via chat atau telpon.
Jadi yaa menyesuaikan aja sih dengan yang dicenderungi, karena pasti ada kemauan berusaha memahami dan menerima gaya & karakter si yang disenangi, iya kan?
Tapi memang, baiknya ya sekedarnya saja. Kecenderungan itu wajar tapi ya sadar posisi, dan alirkan rasa dengan tepat, menghasilkan esai ilmiah misalnya atau hal bermanfaat lainnya. Maksud dari sadar posisi adalah yaa sadar diri. Walau udah saling mengetahui perasaan masing-masing dan saling menerima, tetap aja ada sekat tak kasat mata. Kemungkinan salah satu akan merasa tak nyaman.
Lain halnya dalam pernikahan. Terhadap pasangan sah, komunikasi intens itu perlu banget untuk menjaga kesamaan frekuensi. Itu saja belum cukup, tapi juga menerapkan komunikasi produktif.

Karena komunikasi adalah kunci hehee.

Advertisements

Luka

Namaku Indah, panggil saja begitu. Itu nama samaran yang kubuat sendiri. Aku ingin merahasiakan identitasku. Aku tidak ingin diriku yang sebenarnya diketahui oleh siapa pun, aku ingin menjadi sebuah rahasia yang takkan pernah terungkap. Biarlah ceritaku yang mengudara atau terkubur dalam-dalam tapi diriku bebas berkelana tanpa prasangka. Biarlah jiwaku merdeka berbahagia tanpa belenggu nestapa.

Tulisan ini adalah satu dari 99 surat yang kutuliskan. Kepada siapa surat ini bertuan? tidak ada. Tulisan ini terbuka untuk siapa saja yang sudi membacanya.

***

Mereka bilang aku beruntung, terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Fisikku sempurna, tanpa kekurangan atau pun kelainan. Aku tumbuh normal seperti anak perempuan lainnya, hingga kini aku pun masih –terlihat– normal.

Aku masih waras untuk merasa terluka. Aku membenci, adalah sikap paling manusiawi bagiku. Tapi membencinya menjadikanku manusia yang terkesan jahat, atau aku ternyata memang jahat?

Aku membencinya, sangat-sangat membencinya. Betapa aku muak melihat wajahnya walau sedetik. Betapa aku ingin berkata kasar dan bersikap murka padanya. Bahkan terkadang aku jijik. Kulirik tubuhnya yang ringkih. Guratan keriput di wajahnya tak sekalipun memercikkan iba dalam hatiku. Luka itu terlalu dalam dan membekas, jiwaku sakit.

#Day13
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Rasanya

Hari ini aku tersadar akan sesuatu, mungkin aku memang masih kekanak-kanakkan dan kadang tidak mengerti situasi. Kamu sedang sakit dan aku malah merengek-rengek mencari perhatianmu. Aku juga yang salah dalam bersikap, aku malah membuatmu pusing dan naik darah. Aku tak tepat dalam membahasakan ekspresi kekhawatiran dan perhatian, membuatku terkesan aku yang ingin dimanjakan. Aku menyadari […]

Rahasiaku

Setiap kita tentu punya rahasia, entah rahasia yang berkaitan dengan masa lalu, masa kini atau masa depan. Bisa juga rahasia yang mengenai orang, binatang, tumbuhan, benda mati, atau bahkan rahasia dengan Tuhan. Setiap kita memiliki rahasianya masing-masing. Ada rahasia yang terkunci rapat-rapat, tanpa seorang pun tahu. Ada pula rahasia yang diterbangkan sehingga mengelilingi galaksi. Aku […]

Kamu

Aku hampir berada pada titik buntu. Aku tidak sanggup lagi menuliskan kata-kata. Aku kehabisan ide. Aku harus menuliskan apa lagi. Aku tahu ada banyak yang bisa kutuliskan, tapi aku kehilangan kemauan menulis. Seketika aku bingung akan menuliskan apa dan bagaimana. Rasanya aku buntu dan hilang akal. Huuft~ Apa iya aku menuliskanmu lagi? Tersadarku, hampir semua […]

Menyenangimu

Aku bagaikan bocah yang sering kali merengek manja dalam dekapmu. Aku layaknya anak kecil yang selalu suka mengajakmu bermain. Aku selalu menginginkanmu dalam setiap waktu berlalu. Aku memang menyenangimu.

Kamu memelukku erat dan aku pun membalas. Aku memanggilmu riang dan kamu pun menyahut. Kamu mengunciku dalam satu dekapan dan aku mendiamkanmu dalam satu ciuman. Semesta berkonspirasi melarutkan kita dalam ruang dan waktu. Aku menikmati seluruhmu hingga deru napasmu bahkan suara bising yang kau ciptakan jika terlelap. Aku menyenangimu sebegitunya.

Sayang kakak, kataku pelan. Kamu diam tak membalas. Aku mengatakannya tanpa berharap balasan, aku hanya ingin mengatakannya, hanya itu. Aku adalah anak kecil yang menyenangimu, seorang bocah dengan rindu tak bertepi.

Sayang kamu, jawabmu kemudian.

#Day9
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Islam Nusantara

“Islam ya Islam aja, ngapain ada istilah Islam nusantara. Kayak aliran dalam agama.” celetuk seorang laki-laki di depanku menasehati temannya sekaligus menanggapi postingan yang baru saja dilihatnya. Aku mengenal lelaki yang baru saja melontarkan perkataan itu, dia adalah adik tingkatku yang beda jurusan, tapi kita seperahu dalam organisasi yang sama yaitu pengurus mesjid. Bukan dia […]