Tetaplah hidup, kamu.

Ada orang bising di luar sana. Ingin sekali kamu bungkam mulutnya dengan taik dan pisuhi dengan ucapan: “bacot!”. Orang sok tahu itu memang suka membacoti pilihan orang lain dan berkomentar jika tidak sesuai ekspetasi. Lagi-lagi yang ia bisa lakukan hanyalah bacot, bacot dan bacot. Melelahkan memang jika harus mendengarkan bacotannya. Namun lebih melelahkan lagi ketika […]

Karyaku yang Prematur

20191005_025711

Buku ini adalah karya terburukku. Aku enggan mempromosikannya ke teman terdekatku terutama kepada mereka yang mampu membaca kritis. Buku ini akan memperlihatkan betapa buruknya kemampuanku menulis dan mengupas suatu topik.

Aku pun cukup kecewa dengan penyuntingannya.
Pertama, gaya penulisannnya diubah menjadi bukan aku banget. Inginku menolak itu dianggap tulisanku, tapi ya gak bisa, tercantum oleh Quraeni Wardhany di bawah judulnya. Bagi orang lain itu mungkin sepele, tapi bagiku, gaya penulisan adalah karakter.
Kedua, menghilangkan paragraf yang kusukai. Aku sengaja menuliskan paragraf tsb karena itulah yang menjadi pesan tersiratku agar dipelajari/dicari tahu lagi, namun sayangnya dihilangkan. Nasib baik, aku sempat merevisinya sedikit agar apa yang ingin kukatakan tetap tertulis.
Ketiga, naskah itu kutulis sebelum aku sempat banyak membaca dan mengikuti diskursus. Tulisan tidak matang. Aku sempat malu setelah menyadari tulisanku ini ternyata prematur. Namun, itulah pembelajaran. Sebelum menghasilkan tulisan padat isi, yaa menghasilkan tulisan ompong dulu.

Sampai saat ini aku masih mau mempromosikannya, namun itu adalah sikapku sebagai ilustrator sampul dan quote. Aku tidak sedang mempromosikan tulisanku. Aku berharap pembaca menyenangi desain sampul yang sengaja kubuat menggemaskan. Walau lagi-lagi harus kuakui hasil cetak sampul pun juga mengecewakan.

Manajemen relasi

Lama rasanya tidak menulis, tidak menulis cuapan hati panjang lebar di blog. Saking, menumpuknya hutang tulisan mengantri untuk dituliskan, sampai membuatku terjangkit rasa malas dan kebingungan harus memulai dari topik mana dulu. Dari semua hutang tulisan yang isinya berupa agenda kegiatan dari sebulan lalu hingga detik ini, bahasannya serius semua. Maksudnya topiknya itu loh, berasa jadi aktivis 98 aku tuh hahaha.

Baiklah, mari bahas perihal relasi asmara saja kalau begitu~

Ehm, bicara tentang cinta dan percintaan. Karena aku tipikal yang bisa dibilang enggan terlibat drama kisah cinta yang menjauh-mendekat-menjauh-mendekat, atau melewati fase pacaran bertahun-tahun, itulah sebabnya semua laki-laki terlihat sama di mataku: teman, dan teman.

Konsep Pacaran

Berdasarkan pemikiran ala Qure, pacaran berarti adanya hubungan emosional antara 2 insan.

Jadi, dalam pandanganku konsep ta’aruf sama halnya dengan pacaran, beda terminologi saja tapi esensinya sama yaitu adanya keterikatan dan perasaan yang saling terhubung. Perbedaannya, ta’aruf dinilai lebih terjaga dari fitnah dan hal-hal yang akan melenakan dua insan yang terlibat tsb. Makanya tak heran, gagal dalam proses ta’aruf sama perihnya dengan patah hati, bikin baper wqwqwq.

Menyoal perihal berhubungan dengan lawan jenis, aku cenderung menyukai konsep ta’aruf dan pacaran untuk menikah. Ta’aruf itu ibarat menabung di bank syariah dan pacaran untuk menikah ibarat menabung di bank konvensional. Sama saja, tapi ta’aruf lebih syar’i gitu lhooo, lebih aman dan terjaga dari fitnah dan hal-hal yang akan melenakan kedua insan tsb hehe.
Yang membedakan 2 konsep di atas dengan jenis-jenis kedekatan yang lain adalah adanya kejelasan diawal. Keduanya saling membuat garis tegas. Jadi gak ngambang, dan gak berwarna kuning (simbol warna peringatan untuk berhati-hati, hati-hati cuma dijadikan pelarian atau pemuas hasrat hehe).

Konsep ta’aruf ataupun pacaran untuk menikah adalah bentuk manajemen berelasi. Fungsinya ya untuk manajemenlah, agar tidak terjebak dalam janji manis dan pengharapan semu~ wqwqwq sebenarnya tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas, ngapain menjalin hubungan asmara dengan orang yang ternyata tak bisa diajak meraih sakinah mawaddah warahma dan membangun peradaban dari rumah eaa uhuk, selain buang-buang tenaga juga buang waktu, kalau bisa mengefesiensikan waktu dan tenaga kenapa mau repot dengan capai hati?. Tidak hanya itu, manajemen berelasi bisa juga sebagai upaya melindungi diri dari kisah asmara yang dibuat rumit baik disengaja maupun tidak. Jadi, terhindar tuh dari pihak-pihak yang enggan atau sulit memberikan kejelasan hubungan, bahkan dari segi psikologis sangat membantu untuk mempercepat move on jikalau mengalami perpisahan.

“Gimana sih cara menerapkan konsep ta’aruf atau pacaran untuk menikah agar tercipta garis tegas diawal?” seorang netizen bertanya

Karena sekarang era internet, yaa tanya aja mbah google, lembaga/institusi/komunitas apa yang memfasilitasi ta’aruf. Atau tanyakan keluarga/kerabat yang bisa membantu dalam hal ini.

Kalau pacaran untuk menikah, yang sudah punya pasangan, silakan tanya pasangan masing-masing “kita berencana nikah gak nih?”. Kalau jawabannya, “ehmm…, aaah, …., liat nanti.” Udah deh, ganti presiden pasangan aja. Pilihlah yang juga punya rencana yang sama.

“Pengen pacaran untuk menikah tapi pasangannya gak ada, gimana ukh?” Tanya netizen lagi.

Yaa usahakan pasangannya ada dulu atuhlah. Salah satu tipsnya, kalau ada yang ngedeketin atau sering modus-modus gitu di Whatsapp atau akun medsos, yaaa tanya aja langsung. Misal seperti ini: “Kamu jangan jadiin aku cadangan yaa, kalau ngedeketin cuma buat menikmati kedekatan denganku, silakan cari perempuan lain aja. Kalau mau serius hayu, kalau mau berelasi aja silakan”. Nah, beginikan jelas. Sudah ada kepastian hubungan, apakah hanya berteman atau berproses menuju serius.

Eits, tapi perlu hati-hati jebakan batman. Ada lho pria yang bilangnya “saya mau ngajak kamu serius” tapi ujung-ujungnya liat gimana nanti. Ngakunya aja ngajak serius, tapi planning-nya gak ada, kan sama aja kayak ngambang ferguso~
Ehm, ngomong-ngomong tulisan ini tidak bermaksud untuk mengompori hayu menikah apalagi mengkampanyekan nikah muda. Sama sekali bukan lho yaa, watir ada yang mengira penulis blog ini adalah aktivis gerakan hayu menikah wqwqwq. Tulisan ini lebih berfokus pada manajemen berelasi, begitu deh~

Buka mata

Jumat, 15 Maret lalu terjadi penembakan secara brutal di sebuah masjid dan menewaskan kaum muslimin yang hendak melaksanakan solat jumat. Pelakunya jelas bukan seorang Muslim. Kita semua sepakat, apa yang dilakukan oleh pelaku adalah aksi teror. Telah banyak juga yang mengecam aksi itu.

Namun anehnya, Muslim di Indonesia ada yang merasa bahwa ada yang tak berpihak karena pelakunya bukan Muslim. Maksudnya begini, ada sebagian orang yang merasa bahwa julukan teroris hanya disematkan pada pelaku jika ia muslim. Jika bukan muslim ia tak dianggap teroris, banyak yang menutup mata, begitu anggapannya.

Sekarang ini, aku merasa muslim di Indonesia telah terbagi menjadi dua tipe–berdasarkan perasaannya: muslim yang merasa terzalimi dan yang merasa biasa saja.

Yang menjadi pertanyaan, apakah benar ada yang mendiskreditkan islam? Kalau memang iya benar begitu, lalu kenapa ada sebagian muslim lainnya yang merasa biasa saja? Apakah yang satu kelewat baper atau yang satunya emang gak peka? Terlepas dari itu semua, tak bisakah kita fokus pada solusi? Yakni, menciptakan keadilan dan perdamaian?

Review Buku : Enlightening Parenting (Okina Fitriani)

review buku enlightening parenting.jpgBuku ini kupinjam dengan alasan penasaran. Setelah aku terkesima dengan pemaparan Cikgu Okinaf selama seminar yang menancap hingga relung hati eaaa aku pun tergoda ingin membeli semua bukunya. Sayangnya, bujetku tidak mencukupi, alhasil yaa minjem aja dulu hehe..

Buku ini cukup banyak mengupas hal-hal penting dalam pengasuhan, membuatku berkaca dengan apa yang kualami di masa lalu dan pengasuhan-pengasuhan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarku. Khususnya bagi angkatan mamaku, tanteku, pamanku, banyak dari mereka yang memang tidak menyadari pola pengasuhan mereka mengikuti orang-orang sebelum mereka juga. Parahnya, mereka tidak menyadari telah melakukan kesalahan.

Penjelasan dalam buku ini begitu mudah dipahami dan memberikan insight pengasuhan yang mencerahkan.

ANAKKU TAMU ISTIMEWA DARI TUHANKU

Semua pasangan yang telah menikah tentu sepakat dengan kalimat di atas. Anak seringkali dianggap penting dan menjadi prioritas. Tapi, apakah orang tua telah benar-benar memperlakukan anak seperti orang penting bak tamu istimewa dan menjadikan mereka prioritas??

Jika kita mendapat tugas memimpin sebuah perusahaan, sebuah organisasi, atau sebuah proyek penting, apa yang akan kita lakukan? Bukankah kita akan menyusun visi dan misi yang tertulis dengan jelas? Menentukan target-target pencapaian, mengevaluasi hasilnya dalam rapat kerja terjadwal? Membuat catatan evaluasi atas hal-hal yang perlu diperbaiki? Berdebar-debar menunggu hasil evaluasi kinerja dari pihak-pihak yang terlibat? Mempersiapkan strategi komunikasi terbaik dan hal-hal penting lainnya? Semua dilakukan sedetail mungkin, sebaik mungkin. Bahkan jika merasa kurang mampu, kita akan mempersiapkan serangkaian pelatihan demi mencapai hasil maksimal.

Lalu apa yang dilakukan orang tua saat diamanahi untuk menjadi pemimpin bagi anak-anak mereka?

Apakah mereka memiliki visi dan misi dan mensosialisasikannya ke anak-anak mereka? Adakah catatan pencapaian dan evaluasi untuk perbaikan? Adakah jadwal kumpul bersama agar orang tua mendapatkan umpan balik dari pengasuhan mereka dan membahas isu-isu yang dianggap penting oleh anggota keluarga?

Jika orang tua yang bekerja berdebar-debar menunggu hasil evaluasi kerja, Apakah mereka secara berkala menanyakan harapan dan penilaian anak terhadap dirinya?
Begitu banyak harapan orang tua kepada anak. Berharap anak tumbuh cerdas, sehat, hebat, saleh dan salihah, Namun mereka lupa bertanya, apa harapan anak-anak terhadap mereka.

Menohok banget kan.

Bisa kukatakan, isi buku ini “daging” banget. Sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh orang tua, dan calon orang tua.

Menanggapi Perkataan Tengku Zulkarnain

Tulisan status mbak Kalis yang menanggapi sebuah dialog membuatku ingin menuliskan tanggapanku juga.

https://web.facebook.com/story.php?story_fbid=10213126389426704&id=1603398754&_rdc=1&_rdr

  • “Istrinya diem aja, tidur aja, gak sakit kok.”

Hm.. hm.. ((gak sakit)), katanya. Hmm bhaique. Memang aku tidak punya kapasitas menanggapi hal ini, berhubung aku masih single dan belum pernah berhubungan badan, yhaa mana kutahu yaa sakit apa enggak wkwkwkk. Tapi, tapi, tapi.. sebagai seorang perempuan aku punya bayangan sendiri tentang hal ini.

Ehm … begini, lubang vagina itu kecil. Menurut literatur kisaran 3 – 4 cm, pokoknya lebih kecil dari diameter penis yang umumnya 5 cm koma sekian. Bayangin aja, vagina dipenetrasi oleh benda yang ukurannya lebih besar dari lubangnya?

Masa’ iya gak sakit?

Tapi katanya, begituan enak. Katanyaaa..

Penetrasi bisa tidak menyakitkan, malah menjadi kenikmatan tersendiri itu ada penjelasan ilmiahnya.

  • “Masa’ sex itu harus mood?”

Oh jelas, harus. Dengan adanya mood dapat memicu hormon-hormon cinta sehingga libido meningkat. Peningkatan libido bagi perempuan menyebabkan vagina mengeluarkan cairan lubrikan. Cairan itu berfungsi sebagai pelumas saat penetrasi. Makanya, perempuan gak merasa sakit karena vagina telah terlubrikasi dan pria merasa enak banget karena licin, gak keset.

Lagipula,

Mengutip tulisan Dr. Adil Shadiq, ilmuwan mesir dalam bukunya yang berjudul Rau’at az-Zawaj:

Seks bukan hanya berfungsi biologis, atau untuk perolehan keturunan, tetapi ia lebih dalam, lebih luas, dan lebih sempurna. Daripada itu, ia adalah perwujudan konkret dari hubungan suci dua insan, dan perayaan tentang hubungan itu, dengan menggunakan jasad sebagai langkah awal menuju titik tujuan yang lebih luhur, yakni menuju penyatuan akal, jiwa dan rasa.”

  • “Daripada dia berzina.”

Sebenarnya solusi jika istri tidak mood telah diungkapkan oleh si ibu dalam video: mencari kesepakatan antara suami istri.

Kalau suami sambil merayu dan menstimulus titik-titik tertentu kayaknya hasil kesepakatannya bisa dieksekusi malam itu juga deh wkwkwk. Lagipula suami yang beneran sayang istri pastinya gak bakalan kepikiran ingin melakukan seks dengan perempuan lain dong yaaa.

  • “Tidak ada dalam Islam sama-sama mood. Dalam agama gak ada syarat hubungan suami istri harus sama-sama mood.”

Tidak ada syarat tertulis harus sama-sama mood, karena zaman rasul tidak menggunakan istilah mood, tapi mengasihi.
Suami dan istri harus saling mengasihi, karena seks bukan hanya berfungsi biologis, tapi lebih dari itu.

Review KumCer : Sarapan Pagi Penuh Dusta (Puthut EA)

Ini adalah buku pertama yang kutamatkan diawal tahun 2019. Aku menyelesaikannya disaat perjalanan kereta api dari Yogyakarta menuju Bandung. Buku ini tipis, hanya berjumlah 140 halaman, dan bisa ditamatkan dalam sekali baca. Berisikan 15 cerpen yang dikemas apik, tapi entah kenapa aku tidak bisa menikmati keseluruhan cerita. Dari semua kisah, hanya beberapa yang bisa kupahami dan menyadari pesan yang disampaikan penulis. Singkat kata, buku ini terasa tidak berkesan. Tidak meninggalkan perasaan istimewa selepas menamatkannya. Walau begitu, buku ini tetap layak dibaca sebagai camilan sore atau pengisi kekosongan hati~ karena bagaimanapun, buku ini mungkin saja terasa biasa saja bagiku, tapi tidak bagi orang lain.

Tentang harga buku ini, aku tidak tahu berapa, sekitar lima puluh ribuan–barangkali. Buku ini kudapatkan secara cuma-cuma dari seorang teman. Buku ini pun telah tersebar di toko buku dan dijual secara daring sehingga mudah didapatkan. Bisa juga dipesan saja di sini eh iklan wkwkwk..