Review Novel : Terlalu Cinta (Pelantan Lubuk)

“Patutlah kita bertanya: mahasiswa-mahasiswa yang tampak apatis itu, apakah kita sudah merangkul mereka? Mereka sebenarnya peduli, dan memiliki potensi yang mungkin jauh lebih hebat dari kita, tapi kita tidak pernah merangkul mereka. Kita malah mencemooh mereka. Ini bukan hanya sebuah kekeliruan. Ini kebodohan aktivis.” (Hal 27)

***

Aku menamatkan novel bagus ini tepatnya akhir Juli lalu tapi baru sekarang sempat menuliskan ulasan lebih panjangnya diblog. Memang harus kuakui novel ini bagus. Jika membaca judulnya saja, mungkin rada kurang tertarik karena judulnya terkesan FTV banget dan seperti sebuah judul lagu. Pasti mengira ini isinya tentang cinta-cintaan dramatis ala-ala remaja. Tapi bukan, novel ini menyuguhkan hal lain yang tak pernah ada di novel-novel manapun yang selama ini pernah kubaca, yaitu: pergerakkan mahasiswa.
Bisa dikatakan novel ini cocok banget buat mahasiswa atau pemuda-pemudi.

Seperti makna pernyataan Sukarno: Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.
Adanya novel ini merupakan salah satu cara jitu menyentil muda-mudi untuk bergerak dan bermanfaat.

Novel ini sebagian berisi kritik-kritik sosial dan nilai kemanusiaan, serta secuil pancingan untuk menemukan “Jalan Rahasia”.
Sebagian lagi tentang kisah cinta dua insan yang memang tak berjodoh untuk menua bersama. (Eh spoiler banget yaa😅😅)

Katanya, novel ini sanggup membuat pembaca terbawa perasaan tapi nyatanya aku sama sekali tidak terhanyut oleh kisah asmara dalam cerita. Mungkin, karena aku termasuk tipikal yang mudah mengikhlaskan wkwk.

Berikut cuplikan-cuplikan isi novel:

Sejak TK, nelayan hanya tergolong sebagai jenis mata pencaharian, bukan cita-cita. Cita-cita hanya untuk golongan pekerjaan berpenghasilan terjamin, seperti dokter, guru, polisi, presiden dan pilot. Petani, penjual kue, nelayan, montir bengkel tidak dianggap sebagai cita-cita.
Seakan-akan, mata pencaharian adalah golongan pekerjaan alternatif yang terpaksa dijalani seseorang setelah gagal meraih cita-cita.
Memangnya sejak kapan cita-cita harus selalu berarti “pekerjaan bergengsi dan bergaji tinggi”? (Hal 77)

Kekuatan sebuah komunitas bukanlah pada ketatnya sistem administratif, tapi kuatnya kekeluargaan dan kebudayaan. Bukankah suku-suku besar pada zaman dahulu tak punya proses administrasi modern seperti hari ini, tapi kenyataannya peradaban mereka bisa harum selama ribuan tahun? (Hal 174)

Dan terakhir,
Terima kasih, pernah membuatku terlalu cinta.

Judul : Terlalu Cinta
Penerbit : Mazaya (Novel diterbitkan secara indie, silakan pesan di sana)

Advertisements

Komunikasi Intens

Dulu aku sempat heran, kok bisa yaa dua orang berbeda gender betah telponan lama-lama padahal yang diomongin hal-hal biasa, itu lagi dan itu saja. Aku yang kala itu masih anak ingusan bocah SMP, merasa iyuh banget melihat beberapa kakak seperpupuan yang terlihat menikmati setiap momen bercakap-cakap ria dengan seseorang dipenghujung telpon. Hal semacam itu tuh gak kupahami, kok bisa sih? Why gitu lho? Kayak kurang kerjaan.
Sekarang aku sedikit bisa mengerti mengapa para muda-mudi itu senang berkomunikasi atau malah intens tanpa jeda. Tiap hari –biasanya malam– telponaaaaaaan mulu, padahal sudah saling mengirimi pesan teks sama intensnya. Minimal setiap hari ada sebaris kalimat dikirim-terima.

Aku tidak bisa menjelaskan alasan logis the strong why kita senang menghubungi seseorang yang disenangi. Aku juga tidak mengerti mekanisme cara otak manusia bekerja kenapa bisa senang begitu atau apakah hal semacam ini sebab terstimulusnya zat endorfin dalam tubuh, entahlah, aku pun kurang mengerti. Tapi kini aku mengerti rasanya komunikasi yang kadang –mungkin– tanpa jeda itu candu sehingga segelintir orang terkesan posesif.

Beberapa pelaku posesif ada yang enggak merasa nggak memberi jeda sama sekali, dia gak sadar kalau dia memang seposesif itu. Ada juga yang sadar tapi tetap aja stay posesif, ini karena yang orang yang diposesifin doesn’t mind dengan posesifnya dia.

Kembali ke pembahasan awal, sebenarnya penting gak sih berkomunikasi intens itu? jawaban pertanyaan ini relatif sih yaa, bagi sebagian orang butuh tapi bagi sebagian lagi ngapain sih ngehubungin sering-sering, gak nyaman aku tuh hubungan intens begitu entah via chat atau telpon.

Ini tergantung juga dengan siapa sih kita berkomunikasi. Kalau misalnya dengan teman dekat tempat curhat di mana semua obrolan penting gak penting diomongin, Tentu sudah memahami dan menerima perbedaan masing-masing, termasuk gaya dan karakter teman kita. Karena sudah nyaman, menemukan teman sejiwa seperasaan, sefrekuensi dan se se lainnya kita pun menyesuaikan diri. Mau jarang ngobrol atau saking seringnya ya tetap fine-fine aja. Konflik mungkin terjadi, tapi yaa itu tadi, sudah memahami dan menerima gaya dan karakter pribadi masing-masing.
Lain halnya dengan orang tua, berkomunikasi intens itu perlu apalagi jika jauh dari rumah sedang melalang buana ke kota orang. Salah satu indikator keluarga memiliki hubungan yang sehat ya bagaimana kualitas komunikasi yang terbentuk.

Nah lalu bagaimana jika berkomunikasi dengan lawan jenis dalam konteks adanya kecenderungan rasa. Hmm… Balik lagi ke jawaban di atas, ini relatif, bagi sebagian orang butuh atau ingin tapi bagi sebagian lagi ngapain sih ngechat sering-sering, gak nyaman aku tuh hubungan intens begitu entah via chat atau telpon.
Jadi yaa menyesuaikan aja sih dengan yang dicenderungi, karena pasti ada kemauan berusaha memahami dan menerima gaya & karakter si yang disenangi, iya kan?
Tapi memang, baiknya ya sekedarnya saja. Kecenderungan itu wajar tapi ya sadar posisi, dan alirkan rasa dengan tepat, menghasilkan esai ilmiah misalnya atau hal bermanfaat lainnya. Maksud dari sadar posisi adalah yaa sadar diri. Walau udah saling mengetahui perasaan masing-masing dan saling menerima, tetap aja ada sekat tak kasat mata. Kemungkinan salah satu akan merasa tak nyaman.
Lain halnya dalam pernikahan. Terhadap pasangan sah, komunikasi intens itu perlu banget untuk menjaga kesamaan frekuensi. Itu saja belum cukup, tapi juga menerapkan komunikasi produktif.

Karena komunikasi adalah kunci hehee.

Review Buku : Perempuan (M. Quraish Shihab)

buku perempuan karya Quraish Shihab.jpg
Cover buku Perempuan

Judul : Perempuan
Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati
ISBN : 979-9048-31-1
Tebal  : 441 halaman

Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi lelaki, demikian pula sebaliknya. Ciptaan Allah itu pastilah yang paling baik dan sesuai buat masing-masing. Perempuan pastilah yang terbaik untuk mendampingi lelaki, sebagaimana pasti pula lelaki adalah yang terbaik untuk menjadi pendamping perempuan, karena tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak sempurna dalam potensinya saat mengemban tugas serta fungsi yang diharapkan dari ciptaannya itu. Sang Pencipta pasti Maha Mengetahui kebutuhan lelaki dan perempuan serta apa yang terbaik lagi sesuai bagi masing-masing.

Buku ini berukuran kecil namun tebal, berbagai topik seputar perempuan tertulis secara ringkas dan penuh makna. Disetiap lembar halaman ada saja yang ingin saya highlight, terlalu banyak hal-hal yang menurut saya penting –direnungi- dan tiap pembahasan membawa saya ke sebuah titik terang mencerahkan. Buku ini tidak hanya memberikan pemahaman tentang perempuan tapi juga mengajak pembaca berdiskusi sekaligus merenungi kenyataan yang berkaitan dengan perempuan.

***

Para pakar mengingatkan perbedaan antara cinta dan syahwat. Cinta adalah kecenderungan hati yang mendalam terhadap sifat-sifat lahir dan batin kekasih, sedangkan syahwat hanyalah dorongan nafsu kepada sifat-sifat lahiriah kekasih, yakni kepada jasad saja. Karena itu, semestinya tidak ada cinta dari pandangan pertama karena pandangan pertama belum dapat mengantar kepada pengetahuan apalagi kekaguman kepada sifat-sifat batiniah kekasih. Pandangan pertama, jika dinamai cinta, penamaan itu hanyalah karena dia dapat menghasilkan cinta jika si pemandang menjadikannya tangga yang dia lalui guna menggapai cinta. (Hal 103)

Bab berjudul perempuan dan cinta ini sangat cukup mencerahkan. Memahami makna bahwa cinta adalah sesuatu yang diusahakan, digapai. Cinta mengundang dan mendorong pecinta untuk melakukan aneka aktivitas terpuji, seperti keberanian, kedermawanan, pengorbanan, dan sebagainya. Cinta melahirkan gerak positif.

Perempuan sering kali diperlakukan secara tidak wajar, baik karena tidak mengetahui kadar dirinya maupun mengetahuinya tetapi terpaksa menerima pelecehan. Ini terjadi dalam masyarakat modern, lebih-lebih dalam masyarakat masa lalu. Pada zaman Yunani Kuno, ketika hidup filosof-filosof kenamaan semacam Plato, Aristoteles, dan Demosthenes, martabat perempuan dalam pandangan mereka sungguh rendah. Perempuan hanya dipandang sebagai alat penerus generasi dan semacam pembantu rumah tangga serta pelepas nafsu seksual lelaki. Demosthenes berpendapat bahwa istri hanya berfungsi melahirkan anak. Filosof Aristoteles menganggap perempuan sederajat dengan hamba sahaya.

Perempuan –pada masa lampau- juga dinilai tidak wajar mendapat pendidikan. Elizabeth Black Will, dokter perempuan pertama yang menyelesaikan studinya di Geneve University 1849, diboikot oleh teman-temannya sendiri dengan dalih bahwa perempuan tidak wajar memperoleh pelajaran.

Apakah dasar pembedaan dan perlakuan itu? Sementara pakar berpendapat bahwa kenyataan biologis yang membedakan lelaki dan perempuan mengantar kepada lahirnya pandangan tentang harakah, martabat, serta peran utama kedua jenis makhluk Tuhan ini. Ada lagi yang berpendapat bahwa pembedaan harakah dan peran laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat –umat manusia- itu lebih banyak diakibatkan oleh budaya serta pandangan agama dan kepercayaan masyarakat. Ambillah sebagai contoh pandangan yang menyatakan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk lelaki, dan ini –menurut mereka- berarti perbedaan asal usul kejadian dan nilai kemanusiaan kedua jenis manusia itu. Padahal, kalaupun teks “keagamaan” yang berbunyi demikian dinilai shahih, itu hanya berlaku pada lelaki pertama dan perempuan pertama karena, sesudah mereka, lelaki dan perempuan lahir akibat pertemuan sperma dan ovum. Atau teks tersebut harus dipahami secara metafora, yakni bahwa lelaki dan perempuan memiliki beberapa perbedaan secara biologis dan psikologis yang diperlukan guna keberhasilan manusia melanjutkan eksistensi jenisnya sekaligus menjalankan fungsi kemanusiaannya. (hal 112-117)

Tulisan diatas adalah kutipan dari bab Harakah dan Kemandirian Perempuan. Merenungi pemaparan penulis hal tersebut masih sering dijumpai hingga saat ini. Jika perempuan berbuat salah lantas dicap suatu kewajaran, karena perempuan adalah tulang rusuk yang bengkok. Stigma yang menyebalkan, seolah perempuan rentan dengan kekurangan dan laki-laki adalah makhluk yang lebih lurus. Padahal al-Quran secara tegas menyatakan bahwa kemuliaan ditentukan oleh tingkat ketakwaan kepada Allah, bukan perbedaan jenis kelamin dan suku bangsa (QS al-hujurat [49]:13)

Hati adalah wadah perasaan, seperti amarah, senang, benci, iman, ragu, tenang, gelisah, dan sebagainya. Kesemuanya tertampung di dalam hati. Anda tentu pernah mengalami hati anda menginginkan sesuatu, tetapi akal anda menolaknya. Ini bukti bahwa anda tidak menguasai hati anda. Allah yang menguasainya. Ketika terjadi gejolak yang bergolak itu, itu adalah bukti adanya peranan Tuhan dan kedekatan-Nya kepada hati manusia. Akan tetapi, jangan menduga bahwa semua yang tertampung di dalam hati atau perubahan dan terbolak-baliknya perasaan adalah hasil perbuatan Tuhan yang berlaku sewenang-wenang. Jangan menduga demikian karena nafsu dan setan pun ikut berperan dalam gejolak hati. Ada waswas dan rayuan yang dilakukan setan. Ada juga dorongan nafsu manusia. Jika bisikan berkaitan dengan tuntunan tauhid atau ajakan Nabi Muhammad saw., ketika itu adalah hati yang digerakkan oleh Allah. (hal 162)

Galau adalah kewajaran, karena hati memang begitu, mudah terbolak-balik. Tapi jika memendam kesedihan karena ditinggal nikah kekasih misalnya lalu merasa retak, separuh hati kosong dan sebagainya mungkin itu bisikan setan yang membuatmu begitu terpuruk. Maka, bersegeralah kembali ke jalan yang ridhoi.

Pantas jika buku ini berpredikat National Bestseller, karena memang isinya yang sangat bagus sekali. Dikemas dengan baik sehingga sangat mudah dipahami, dilengkapi dengan adanya catatan kaki yang memudahkan untuk memahami dan menambah pengetahuan baru. Buku yang sangat layak untuk dibaca!

 

Selamat membaca dan berbahagia 🙂

Pendidikan berkualitas berawal dari keluarga

Makna Pendidikan
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut Prof. Richey dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’ menjelaskan Istilah ‘Pendidikan’ berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat. Sederhananya, pendidikan adalah upaya menjadikan kondisi ‘belum tahu atau belum bisa’ menjadi tahu atau bisa guna memberikan kebermanfaatan seluas-luasnya, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bagi orang lain.

Peran keluarga
Keluarga sebagai lembaga terkecil di dalam masyarakat diharapkan mampu menyiapkan anak dalam menghadapi hidupnya pada masa mendatang. Apabila didikan anak dalam keluarga baik dan terarah, maka kelak anak akan tumbuh dewasa sebagai manusia yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Untuk mempersiapkan generasi yang baik tersebut tidaklah mudah. Orangtua sebagai pendidik di lingkup keluarga harus memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak dan juga harus mengetahui kewajibannya dalam mendidik anak. Oleh karena itu, tulisan ini akan membicarakan tentang pembentukan keluarga yang ideal sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap anak, dan peranan keluarga dalam pendidikan anak yang berkualitas.Read More »

Mencanduimu

Mencanduimu adalah khilaf yang kunikmati Pikiranku terbang mengangkasa Hatiku luruh Mencanduimu adalah dosa yang kusenangi Jiwaku hanyut bersamamu Ragaku rindu Mencanduimu adalah kesengajaanku Manjaku hanya padamu Gilaku hanya karenamu